<link rel="me" href="http://www.blogger.com/profile/09330209640560320332" /> <link rel="openid.server" href="http://www.blogger.com/openid-server.g" /> <!-- --><style type="text/css">@import url(http://www.blogger.com/static/v1/v-css/navbar/697174003-classic.css); div.b-mobile {display:none;} </style> </head>
Archives
Recent Stories
Another Stories
Exchange Link

Kisah Vina
My Ads

Jumat, November 07, 2008
DI KIOS JOKO
Siang yang panas. Joko sibuk mengipasi dirinya dengan kipas sate. Dadanya telanjang dan legam. Sarung kotak-kotak yang itu-itu saja, setia menemani harinya. Juga masih dengan tempat dan cara pemakaian yang begitu-begitu saja. Nampak membosankan. Tapi tidak, jika sudah nongkrong di kiosnya. Tidak besar ukurannya. Namun sangat strategis untuk mengintai gerbang masuk kampus biru. Dari tempat duduk kios itu, aku bisa mengintai Tora, cowok cakep penyejuk mata. Memantau kehadiran Mrs. Yoga yang super galak dan on time. Orang-orang yang berlalu – lalang ke luar masuk kampus. Selain itu, kios Joko juga enak untuk nongkrong, mengisi waktu luang sebelum perkuliahan. Menikmati sego sadukan, kopi pahit, dan gorengan. Tentu saja sambil ngobrol ngalur-ngidul. Mulai goyangan dahsyat Inul, gaya seronok mantan bojonya Saiful Jamil, artis yang mendadak dangdut, artis yang mendadak berpolitik, George Clooney yang makin tua maki sexy, harga-harga yang dikerek tinggi-tinggi seperti bendera merah putih saat tujuh belasan, demo mahasiswa yang membuat Joko libur jualan sampai para capres yang mendadak ingat Chairil Anwar dan jago merangkai kalimat-kalimat mutiara.


Siang ini kios Joko sepi dan Joko sedang sendirian. Aku juga sendirian. Ke kampus bukan untuk kuliah, tapi nongkrong di kiosnya Joko. Ngobrol, makan, ngopi. Malas saja rasanya ketika kantong menipis dan mulut-mulut di rumah mega-megap minta jatah, masih saja otak dibebani teori-teori para pakar yang sebagian sudah mati. “Demi masa depan yang lebih baik”, “Biar bisa kerja kantoran” bla bla bla… Begitulah kata orang-orang. Tapi toh sudah terbukti juga, dengan lancarnya hafalan dan cemerlangnya nilai-nilaiku ternyata tidak ada jaminan perutku dan keluargaku kenyang dan tongkrongan kami lebih nyaman. Sertifikat pun hanya teronggok manis di dalam almari.


“Kopi ya. Kek biasanya.” Joko sumringah menyambut penampakanku. Sudah dua hari memang aku tidak ke sini.


“Sip, Mbak. Waduh dua hari gak nongol, ke mana aja nih, Mbak?” Suara putaran sendok beradu dengan gelas terdengar dari samping kios Joko.


“Biasalah, Jok. Cari tambahan.” Kukipasi diriku dengan kipas andalan Joko. Kopiku terhidang di meja kayu ala kadarnya. Di depan kios. Lalu Joko duduk di sebelah kiriku. Memandang anak-anak yang berjalan pulang dari SD. Mereka riuh. Tertawa-tawa. Sebagian menyeruput es godir. Sebagian ngemut chupa cups. Sebagian juga ada yang menelan ludah saja, haus.


“Panas banget ya, Mbak.” Joko membuka pembicaraan. “Makin hari makin gak tentu cuacanya.”, lanjutnya.


“Gitu deh, Jok. Sama kek kondisi kantongku nih. Sedang gak menentu.” Aku mulai curhat dan pasang ekspresi cemberut. Macak melas deh. Joko meringis. Terlihat giginya yang besar-besar.


“Hehehe…Mbak Gadis ini... dua hari gak nongol kok tetap aja miskin.”, timpal Joko.


“Maksud lo?”, jawabku sambil melotot. Pura-pura sewot.


“Huehehehe…jas kiding, Mbak. Becanda gituhhh.”, lagi-lagi Joko meringis. Mengipas-ngipas dadanya.


“Memangnya Mbak Gadis kenapa sih? Dua hari ngilang. Datang-datang…muka kusut, baju hitam-hitam, rambut gondrong, miskin, sandal jepitan pula.” Joko masih saja rese.


“Kurang ajar. Sejak bayi ceprot kali, Jok…rambutku dah gondrong ginih.” Aku meleletkan lidah. Hening sejenak. Kunikmati sego sadukan yang sudah separuh jalan pindah tempat ke lambungku.


“Mbak Gadis dah tahu kabar terbaru belum?”, Tanya Joko setelah makananku tandas. Padahal belum juga kopi kusentuh. Aku masih berdecap-decap kepedesan.


“Gila! Sambelya muantap, Jok. Sssshhahhhh… Apaan tuh?”, jawabku sambil mulut membuka menutup mirip ikan koi.


“Hehehehe… gila kok pedas.” Dia tertawa renyah. “Kampus kita kekurangan siswa tuh.” Self of belonging Joko nampak. Padahal dia gak pernah duduk di bangku kuliahan kampus biru itu.


“Kita? Gue aja kali, elo enggak.”, candaku.


“Ya elah, Mbak Gadis segitunya sih.”, mulut Joko maju dua senti. Cemberut.


“Hahahaha…iya iya gitu aja monyong.”, semburku. Kutinjug bahu kanannya. Aku tersenyum. Lucu juga wajah Joko kalo cemberut.


Sambil menikmati kopi, aku bertanya padanya, “Jok, menurutmu mana yang lebih penting, daganganmu laku dan kalian kenyang, atau bisa kuliah tapi gak punya kerjaan. Nodong aja gitu ma ortu.”


Joko terdiam. Mendadak jadi agak serius. Mikir. Kuamati baik-baik wajahnya. Agak kurusan dan ada kerut pikiran di sana. Tiba-tiba aku ingat, istrinya hamil tua. Tujuh bulan.


“Mmm…mending punya duit dan bisa ngasih makan anak istri, Mbak. Kalo kuliah…mungkin sampe bercucu cicit, saya gak bakal bisa. Gak bermimpi juga, Mbak. Emak dan Bapak dulu juga gak kuliah. Sekolah juga cuma sampe SD.” Joko menerawang. Rokok klobot terselip di antara bibirnya. Dihisanya pelan-pelan. Salah satu kenikmatan dunia, katanya.


“Istrimu hampir babaran ya, Jok?” Disinggung masalah istri dan calon anakya, makin dalam Joko menghisap rokoknya. Kerut pikiran nampak jelas.


“Iya, Mbak.” Kutunggu kalimat berikutnya.


“Tapi saya bingung. Jaman sekarang, bersalin saja biayanya mahal banget ya. Duitnya gak cukup. Padahal kan si ole gak bisa disuruh nginep lebih lama di perut emaknya.” Getir di suara Joko.


“Trus gimana, Jok?” Teringat aku akan Rina, adik bungsuku, yang tadi pagi mogok sekolah gara-gara gak punya buku paket. Tangisnya kencang dan aku hanya bisa merayu.


“Pengen ngutang…tapi takut gak bisa bayarnya. Lagi sepi, Mbak. Istri saya juga harus berhenti terima cucian selama baru melahirkan. Masak tole sudah punya hutang sejak baru lahir ya, Mbak?” Pertanyaan yang bagus. Gurauan yang biasa aku dan teman-teman lontarkan menanggapi hutang negara, yang tidak habis-habis ini.


Aku gak menjawab atau berkomentar. Kudongakkan kepalaku. Kupandangi langit yang putih biru seperti gumpalah kapas. Lalu gadis-gadis yang ‘sekwilda bupati’ meski sedang tidak dugem. Tertawa-tawa genit dan menenteng hape canggih. Juga cowok-cowok berambut ala Kangen band, Ariel Peterpan atau Radja. Pun mobil mewah yang berjajar rapi bersanding kontras dengan motor bebek dan sepeda onthel. Indahnya.


Lalu suara Joko terdengar lagi, “Saya bingung, Mbak.”


“Sama, Jok. Aku juga bingung.”, jawabku apa adanya. Tidak tahu harus memberi saran apa. Blank.


Matahari sepertinya sudah hampir tergelincir. Makin banyak orang-orang meninggalkan kampus. Kulirik jam tanganku. Lima belas kurang dikit. Waktunya cabut.


“Ini, Jok.” Kubayar makan dan minumku tadi. “Kembaliannya ditinggal aja ya. Makasih ngobrol-ngobrolnya.”


“Sama-sama, Mbak…ditinggal untuk tabungan kasbon atau uang rokok saya nih, Mbak?” Gigi besar Joko terlihat lagi. Sudah bisa bercanda lagi rupanya.


“Terserah deh. Rokok juga boleh lah. Hehehe… Aku balik dulu ya. Dah sore nih.”, kataku sambil memperbaiki posisi ransel di punggung dan mulai beranjak pergi. Awalnya akan kukatakan pada Joko, kata-kata yang biasa kuucapkan ketika menghibur teman-temanku yang kesusahan. Kata-kata seperti, “Sabar ya. Tetap berdoa dan berusaha. Semua pasti ada hikmanya dst. dst…” Tapi kuurungkan niatku itu. Jelas itu tidak cocok untuk Joko.


Belum juga seratus langkah aku beranjak, suara Joko terdengar lagi. Berteriak memanggil, “Mbak Gadis!” Spontan aku berhenti dan menoleh.


“Dapat salam dari Mas Tora! Katanya, Mbak Gadis lebih cakep pakek kaos biru dan rambut dikucir kuda!”


Glodak!!! Aku melongo dan tersipu. Satu karena suara cempreng bin kencang Joko didengar banyak orang yang sekarang jadi kasak kusuk. Dua karena aku kaget, senang dan berbunga-bunga. Tiga, karena ekor mataku menangkap sosok Tora berdiri tidak jauh dari gerbang. Menengok ke arahku.


Grogi bin hepi. Kubalikkan badan dan segera bergegas kabur. Masih sempat kudengar Joko ngakak di kiosnya. Dan berseru lantang, “Cie cie cie…malu nih ye!”


Doh doh doh… Gosh!... Tuhan memang baik ya. Masih saja memberikan adegan hiburan di tengah panasnya bumi.



Gresik, 3 Agustus 2008
-vin-
posted by vina @ 14:58   1 comments

About Me
Foto Saya
Nama:
Lokasi: surabaya, east java, Indonesia

I'm only an ordinary woman who wants to enjoy her life.

Owner's Blogs
Quotation

"Melupakan sama saja dengan menghilangkan. Dan kehilangan adalah hantu bagi jiwa dan waktu."

("Missing" by Ruwi Meita; GagasMedia: 27)

Shoutbox


Free shoutbox @ ShoutMix

Readers
Sponsored By

Blogger